Ekologi Laut Tropis

April 14, 2010 at 6:10 pm (Uncategorized)

Ekolog adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (“habitat”) dan logos (“ilmu”). Ekologi laut merupakan ilmu yang mempelajari tentang Ekosistem air laut. Ekosistem air laut dibedakan atas lautan, pantai, estuari, dan terumbu karang, dan padang lamun. Berikut penjelasan tentang ekologi laut. Maka dapat disimpulkan bahwa ekologi laut tropis merupakan hubungan antara makhluk hidup untuk mempertahankan kehidupannya dengan benda tak hidup (abiotik) di lingkungan bahari atau lingkungan laut tropis yakni lingkungan perairan laut yang terdapat pada garis lintang 23,5­­­0 LS – 23,50 LU.

  1. EKOSISTEM LAUT

Ekosistem berasal dari kata bahasa asing Geobiocoenosis, Geobiocoenosis mempunya dua kata dan masing-masing artinya yakni Biocoenosis yang  berarti komponen Biotik dan Geocoenosis yang berarti  komponen abiotik.  Jadi Ekosistem adalah suatu sistem ekologi  yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.

Ekosistem terdiri dari komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan sehingga ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tak hidup di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Menurut sifatnya ekosistem mempunyai dua komponen yang saling berketergantungan yaitu:

  1. Komponen Biotik misalnya Bakteri, Plankton, Benthos, Ikan dll,
  2. Komponen Abiotik misalnya Air, Gas, Tanah dll.

Komponen ekosistem berdasarkan Tropic Level atau tingkat makan- memakan pada suatu ekosistem yaitu:

  1. Autotrophic : organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil).
  2. Heterotropic : menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana.

Pada suatu ekosistem terdapat perbedaan-perbedaan antara ekosistem yang satu dengan yang lainnya, karena pada suatu ekosistem mempunyai ciri khas tersendiri. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kondisi iklim (hutan hujan, hutan musim, hutan savana), perbedaan letak dari permukaan laut, topografi, dan formasi geologik (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai), erbedaan kondisi tanah dan air tanah (pasir, lempung, basah, kering).

Laut tropis mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan laut subtropis maupun laut kutub, karakteristik yakni di laut Tropis sinar matahari terus menerus sepanjang tahun (hanya ada dua musim, hujan dan kemarau), hal tersebut merupakan kondisi optimal bag produksi fitoplankton dan konstant sepanjang tahun, untuk kawasan Laut Subtropis intensitas sinar matahari bervariasi menurut musim (dingin, semi, panas dan gugur), otomatis tingkat produktifitas akan berbeda pada setiap musim. Musim semi (tinggi), dingin (sangat rendah) sedangkan laut Kutub masa produktifitas sangat pendek (Juli atau Agustus), musim panas (fitoplankton tumbuh).

Pada suatu ekosistem makhluk hidup tidak hanya menempati, berkembang biak, makan dan yang lainnya akan tetapi peranannya dalam komunitas dan posisisnya pada gradient lingkungan tidak hanya tergantung dimana organisme tadi hidup, tetapi juga pada apa yang dilakukan organisme termasuk mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain disebut niche (Relung). Niche juga menjelaskan tentang kepadatan populasi, metabolisme secara kolektif, pengaruh faktor abiotik terhadap organisme, pengaruh organisme yang satu terhadap yang lainnya dan sebagai landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama.

Ekosistem di kawasan pesisir terdapat tiga habitat utama yaitu Ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang.

Secara bahasa mangrove berasal dari kata mangue/manggal (portugis) dan grove (inggris), jadi ekosistem mangrove yaitu suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pada saat pasang dan bebas pada saat surut. Karena memiliki hutan mangrove yang sangat luas di dunia, maka di Indonesia terdapat beberapa jenis mangrove yang ditemukan yaitu :

  1. Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)
  2. Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)
  3. Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)
  4. Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)
  5. Lythraceae (sonneratia, dll)

Hutan mangrove mempunya beberapa fungsi yang sangat penting bagi kehidupan di pesisir , yakni hutan mangrove berfungsi sebagai peredam gelombang dan angin, pelindung dari abrasi dan pengikisan pantai oleh air laut, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen, sebagai penghasil sejumlah besar detritus bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut, juga sebagai habitat bagi beberapa satwa liar, seperti burung, reptilia (biawak, ular), dan mamalia (monyet),Sebagai daerah asuhan (nursery grounds), tempat mencari makan (feeding grounds), dan daerah pemijahan (spawning grounds) berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya, juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat ekowisata.

Dalam sebuah ekosistem yang terdapat beberapa populasi di dalamnya, maka akan terjadi interaksi antara individu dan populasi tersebut. Hubungan tersebut disebut hukum interaksi. Hukum interaksi tersebut meliputi :

  1. Interaksi netral yaitu hubungan yang saling tidak berpengaruh satu sama lain. Misalnya hubungan antara kambing dan tikus.
  2. Interaksi kompetisi yaitu hubungan antara komponen ekosistem yang saling bersaing satu sama lain untuk tujuan yang sama. Misalnya kerbau dan kambing yang sama-sama bersaing mengkonsumsi rumput. Atau harimau dan singa yang sama-sama berburu mangsa.
  3. Interaksi predasi yaitu hubungan dimana terjadi peristiwa memangsa dan dimangsa antara komponen ekosistem. Misalnya harimau memangsa kijang.
  4. Interaksi simbiosis mutualisme yaitu hubungan antar komponen ekosistem yang saling menguntungkan satu sama lain. Misalnya hubungan antara kerbau dengan burung yang memakan kutu di tubuh kerbau, kerbau diuntungkan dengan tidak adanya kutu dan burung diuntungkan karena mendapat makanan.
  5. Interaksi simbiosis komensalisme yaitu hubungan antar komponen ekosistem dimana salah satu pihak diuntungkan, sedangkan pihak lain tidak diuntungkan dan tidak pula dirugikan. Misalnya hubungan antara anggrek yang menempel pada tumbuhan.
  6. Interaksi simbiosis parasitisme yaitu hubungan antar kompoen ekosistem dimana salah satu pihak diuntungkan, sedangkan pihak lain dirugikan. Misalnya hubungan antara benalu dan tumbuhan.
  7. Hubungan antibiosa atau amensalisme yaitu hubungan antar komponen ekosisem dimana salah satu pihak dapat mengahmbat kehidupan yang lain. Misalnya hubungan antara alelopaty dari gulma.

Dalam niche sendiri terdapat faktor pembatas diantaranya yaitu proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum.

Dalam hubungannya dengan ekosistem, mungkin kita bertanya-tanya bagaimana nutrien tersebut masuk ke suatu ekosistem, caranya yaitu melalui proses Weathering, Atmospheric Input, Biological Nitrogen Fixation, Immigration

Nutrien pada ekosistem ada yang masu otomatis ada juga yang keluar karna untuk menyeimbangkan kadar nutrien di dalam ekosistem tersebut, beberapa cara keluarnya nutrien dari suatu ekosistem yaitu Erosion,  Leaching, intrusi,  Gaseous Losses, pembuangan berupa gas,  Emigration and Harvesting.

Semua mahluk hidup pasti mengalami berbagai siklus kehidupan , diantaranya siklus biogeokimia. Siklus Biogeokimia yaitu dinamakan siklus karena terjadi terus menerus dan Biogeokimia yaitu adanya perubahan dari biosfer yang hidup dan tak hidup yang menyangkut materi, sehingga siklus biogeokimia adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik.

Dalam siklus Biogeokimia terdapat beberapa siklus yang mempengaruhi siklus Biogeokimia, yaitu :

  1. Siklus Nitrogen

Sebenarnya udara di dunia ini kandungan yang paling banyak adalah Nitrogen hampir 75% lebih Nitrogen yang terkandung di udara ini, Nitrogen di atmosfer buakan hanya berbentuk N (nitrogen) saja, nitrogen yang terdapat di atmosfer melainkan berbentuk NH3 (nitrit) dan yang lainnya, Nitrogen juga bisa mengikat Hidrogen (H) hanya saja dibantu oleh kilat atau petir. Tumbuhan mendapatkan nitrogen dari dalam tanah berupa amonia (NH3), ion nitrit (No2-), dan ion nitrat (No3-).

  1. Siklus Fosfor

Fosfor dialam terdapat dua bentuk yaitu fosfat organik yang terdapat pada hewan dan tumbuhan dan fosfat anorganik terdapat pada air dan tanah. Di alamhewan atau tumbuhan yang sudah mati akan diuraikan bersamaan dengan penhguraian tersebut fosfor juga mengurai yang tadinya fosfor tersebut adalah fosfat organik di uraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Setelah diuraikan menjadi fosfat anorganik, fosfat anorganik ini sebagian akan terlarut pada air tanah attaupun air laut. Fosfat yang terkandung pada air tanah dan air laut akan terkikis dan akan mengendap pada sedimen laut. Sementara itu fosfat dari batu atau fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik yang terlarut di air tanah dan air laut, kemudian fosfat yang terkandung pada air tanah itu akan diserap kembali oleh tumbuhan lagi…

  1. Siklus Karbon dan Oksigen

Siklus ini adalah siklus biogeokimia yang terbesar karena terdapat beberapa hal yang terjadi pada siklus ini, yaitu karbon atau oksigen tinggal dalam tubuh, Respirasi oleh hewan, Sampah/sisa.

Kita tahu bahwa makhluk hidup hewan dan manusia membutuhkan oksigen, ketika kita menghisap oksigen oksigen akan masuk ke paru2, setelah oksigen masuk tubuh akan menyeimbangkan kondisinya dengan mengeluarkan karbondioksida, ketika karbon tersebut dikeluarkan oleh tumbuhan karbon ini dipergunakan untuk melakukan fotosintesis dan hasil dari fotosintesis tersebut oksigen dan energi. Karbon dan Oksigen 45%nya akan digunakan untuk pertumbuhan, kemudian 45%nya lagi untuk respirasi pada hewan dan 10% untuk DOC.

Untuk kebutuhan di air laut, karbon dan oksigen masuk ke air laut secara difusi.

Makhluk hidup baik yang masih hidup atau yang sudah mati itu tersusun oleh materi-materi yang menyusunnya, dalam kehidupan makhluk hidup akan saling membutuhkan satu sama lainnya seperti makhluk hidup yang memanfaatkan materi-materi dari makhluk hidup yang mati maupun yang masih hidup untuk melangsungkan kehidupannya. Makhluk hidup agar supaya tetap melangsungkan kehidupannya terjadi kegiatan makan memakan yang disebut rantai makanan. Apabila salah satu makhluk hidup mati tidak akan mempengaruhi rantai makanan, karena masih ada makhluk hidup yang lainnya.

-SANDRA KANIA-

230210080031

Program Studi Ilmu Kelautan

FPIK UNPAD

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS

April 14, 2010 at 2:11 pm (Uncategorized)

ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS

  • Abrasi adalah pengikisan pantai.
  • Adaptasi adalah cara bagaimana organisme mengatasi tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup.
  • Alelopati merupakan interaksi antarpopulasi, bila populasi yang satu menghasilkan zat yang dapat menghalangi tumbuhnya populasi lain. Contohnya, di sekitar pohon walnut (juglans) jarang ditumbuhi tumbuhan lain karena tumbuhan ini menghasilkan zat yang bersifat toksik. Pada mikroorganisme istilah alelopati dikenal sebagai anabiosa.Contoh, jamur Penicillium sp. dapat menghasilkan antibiotika yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri tertentu.
  • Biofuel adalah bahan bakar nabati (biofuel) yang mampu menyerap karbondioksida sebagai penyebab tingginya efek rumah kaca. Bahan bakar ini pun dinyatakan sebagai bahan bakar ramah lingkungan yang bisa menggantikan bahan bakar fosil.
  • Detritus adalah hasil penguraian sisa-sisa mahluk hidup yang berupa bahan organic.
  • Difusi adalah peristiwa mengalirnya/berpindahnya suatu zat dalam pelarut dari bagian berkonsentrasi tinggi ke bagian yang berkonsentrasi rendah.
  • Estuaria adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan becampur
    • Feeding Ground adalah tempat untuk mencari makanan .
    • Gaseous Losses, adalah pembuangan berupa gas .
    • Herbivora dalam zoologi adalah hewan yang hanya makan tumbuhan dan tidak memakan daging.
    • Jaring-jaring makanan: kumpulan dari rantai makanan yang salng berhubungan dan membentuk skema mirip jaring. misalnya gabungin rantai makanan yang tadi sama: rumput dimakan kelinci dimakan elang. biasanya rantai makanannya lebih dari 2.
    • Karnivora dalam zoology adalah hewan yang hanya memakan daging , dan bisa dikatakan predator.
    • Komensalisme
      Komensalisme merupakan hubunganantara dua organisme yang berbeda spesies dalam bentuk kehidupan bersama untuk berbagi sumber makanan; salah satu spesies diuntungkan dan spesies lainnya tidak dirugikan. Contohnya anggrek dengan pohon yang ditumpanginya.

      • Kompetisi merupakan interaksi antarpopulasi, bila antarpopulasi terdapat kepentingan yang sama sehingga terjadi persaingan untuk mendapatkan apa yang diperlukan. Contoh, persaingan antara populasi kambing dengan populasi sapi di padang rumput.
      • Komponen abiotik, komponen-komponen yang tidak hidup atau benda mati. Yang termasuk komponen abiotik adalah tanah, batu dan iklim, hujan, suhu, kelembaban, angin, serta matahari.
      • Komponen biotik, yaitu terdiri dari mahkluk hidup seperti hewan, tumbuhan dan manusia.
      • Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi.
        • Konservasi adalah pelestarian atau perlindungan, Upaya perlindungan dan pengelolaan yang hati-hati terhadap lingkungan dan sumber daya alam
        • Konsumen yaitu makhluk hidup yang tidak dapat membuat makanan sendiri. Konsumen tergantung pada makhluk hidup lain. Contohnya manusia dan hewan.
        • Leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi.
        • Intrusi,  adalah suatu tindakan perusakan sekuritas pada sistem jaringan yang membutuhkan suatu mekanisme deteksi serta penanganan tersendiri.
        • Mutualisme
          Mutualisme adalah hubungan antara dua organisme yang berbeda spesies yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Contoh, bakteri Rhizobium yang hidup pada bintil akar kacang-kacangan.
        • Netral
          Hubungan tidak saling mengganggu antarorganisme dalam habitat yang sama yang bersifat tidak menguntungkan dan tidak merugikan kedua belah pihak, disebut netral. Contohnya : antara capung dan sapi.

          • NICHE adalah posisi suatu spesies atau populasi secara relatif (nisbi) di dalam suatu ekosistem, niche menggambarkan suatu paket strategi yang bisa dipilih oleh suatu organisme/spesies untuk tetap bertahan hidup.
          • Nursery Ground adalah daerah asuhan ikan-ikan kecil.
          • Parasitisme
            Parasitisme adalah hubungan antarorganisme yang berbeda spesies, bilasalah satu organisme hidup pada organisme lain dan mengambil makanan dari hospes/inangnya sehingga bersifat merugikan inangnya.contoh : Plasmodium dengan manusia, Taeniasaginata dengan sapi, dan benalu dengan pohon inang. Perhatikan Gambar 6.15
          • Predasi
            Predasi adalah hubungan antara mangsa dan pemangsa (predator). Hubungan ini sangat erat sebab tanpa mangsa, predator tak dapat hidup. Sebaliknya, predator juga berfungsi sebagai pengontrol populasi mangsa. Contoh : Singa dengan mangsanya, yaitu kijang, rusa,dan burung hantu dengan tikus.

            • Produktivitas adalah suatu konsep yang menunjang adanya keterkaitan hasil kerja dengan sesuatu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk dari tenaga kerja”.(J.Ravianto)
            • Produsen adalah makhluk hidup yang dapat membuat makanannya sendiri. Contohnya tumbuhan hijau.
            • Rantai makanan adalah perpindahan energi makanan dari sumber daya tumbuhan melalui seri organisme atau melalui jenjang makan (tumbuhan-herbivora-carnivora).
              Secara garis besar, tumbuhan hijau menempati urutan pertama dalam rantai makanan.
            • Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawa-senyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO2 sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi H2O.
            • Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
            • Siklus biogeokimia atau siklus organic anorganik adalah siklus unsure atau senyawa kimia yang mengali r dari komponen abiotik ke biotic dan kembali lagi ke komponen abiotik.
            • Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosferbumi dan kembali ke atmosfir melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. ke
              • Silvofishery atau minawana
              • SOLAR ENERGY atau Energi surya adalah energi yang didapat dengan mengubah energi panas surya (matahari) melalui peralatan tertentu menjadi sumber daya dalam bentuk lain.
              • Spawning Ground adalah daerah tempat pemijahan .
              • Suksesi adalah Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan
              • Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu.
              • Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, balk secara alami maupun buatan.
                • Tanah Lumpur Aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok untuk lahan pertanian.
                • Transparansi : tingkat kejernihan air
                • Weathering atau pelapukan adalah perusakan batuan pada kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin).
                • Wilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah darat meliputi bagian daratan yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan intrusi garam, sedangkan ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang ada di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta daerah yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan.
  • Autotrophic adalah Organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan-bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil).
  • Heterotropic adalah Organisme yang mampu menyusun kembali dan menguraikan bahan-bahan organik kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana.

Oleh :

Sandra Kania

230210080031

Program Studi Ilmu Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

RANTAI MAKANAN DAN SIKLUS ENERGI EKOSISTEM MANGROVE DI KABUPATEN KARAWANG PROVINSI JAWA BARAT

Maret 31, 2010 at 5:12 am (Marine ecology)

Bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia hutan mangrove sering disamakan dengan hutan bakau. Persepsi ini bagi sebagian orang mungkin bisa dibenarkan, namun sebenarnya adalah salah besar. Hal ini didasarkan bahwa bakau adalah hanya salah satu jenis dari tanaman mangrove dari family Rhizophoraceae. Jadi sebaiknya penggunaan hutan bakau lebih baik dihindari. Hutan mangrove sampai dengan saat ini masih lebih banyak dimanfaatkan sebagai penghasil kayu baik untuk kebutuhan bahan

baku chip, memenuhi kebutuhan bahan baku arang, tiang pancang dan sebagainya. Selain itu lahan dari hutan mangrove saat ini telah banyak dikonversi baik untuk kebutuhan lahan budidaya (tambak,sawah, dll.) maupun untuk perumahan, pelabuhan maupun industri.Hal ini bisa terjadi karena kurangnya pemahaman dari masyarakat maupun pihak pengembang dan pemegang kebijakan tentang fungsi lain dari hutan mangrove.

Ekosistem mangrove juga merupakan daerah asuhan, berkembang biak, dan mencarimakan berbagai jenis ikan dan udang. Oleh karena itu keberadaan ekosistem mangrovesangat penting dalam menjaga kelestarian stok perikanan. Ekosistem mangrove jugaberperan untuk menjaga stabilitas garis pantai.

Luas hutan mangrove yang berada di wilayah Provinsi Jawa Barat (Wilayah BPDASCitarum-Ciliwung) terdapat di Pantai Utara Jawa Barat yaitu dalam kawasan hutanmeliputi 2 KPH (Bogor dan Purwakarta), dan di luar kawasan hutan meliputi 5 Kabupatenyaitu, (Kabupaten Serang, Kabupaten Tanggerang, Kabupaten Bekasi, KabupatenKarawang dan Kabupaten Subang) dengan luas keseluruhan adalah 35.560,10 Ha. (BPDAS Citarum-Ciliwung, 2005).

Ekosistem mangrove di jalur pantai Utara Jawa Barat wilayah BP-DAS Citarum-Ciliwung, sebagian besar (25.226,10 Ha) berbentuk kawasan hutan dan sebagian yanglain (10.334 Ha) berupa lahan milik masyarakat dan lahan lainnya yang digunakan untukareal pemukiman.

Luas Kawasan Hutan Mangrove Perum Perhutani Unit III Jawa Barat

Wilayah BP-DAS Citarum-Ciliwung.

no BPH/BKPH LUAS HUTAN (Ha)
1 Bogor
-Tanjung Kaeang 10.481,5
-Tangerang 1.647,10
Jumlah 12.128,25
2. Pruwakarta
-Cikiong 7.823,45
-Ciasem/Pamanukan 5.274,40
Jumlah 13.097,85
JUMLAH 25.226,10

Sumber: BPDAS Citarum-Ciliwung, 2005

Berdasarkan hasil analisis citra Landsat tahun 2005/2006 luas hutan mangrove diKabupaten Karawang adalah 407,58 ha, tersebar di Kecamatan Cibuaya 18,34 ha, diKecamatan Cilamaya 2,15 ha, Kecamatan Tempuran 18,70 ha dan Kecamatan Tirtajayaseluas 58,387. Dengan jumlah di dalam kawasan seluas 154,30 dan di Luar kawasanseluas 253,30 ha.Karakteristik Ekologi hutan mangrove di kabupaten Karawang tergolong miskinjenis, dengan jenis yang ada yaitu Avicenia sp (Api-api), Xylocarpus granatum (Bogem),Bruguiera gymnoriza (Tancang) dan Rhizophora sp (Bakau kacang). Tingkat kekayaanjenis cukup baik untuk tingkat semai, keanekaragaman jenis rendah dan nilai kemerataanjuga rendah. Kondisi ini menybabkan karakteristik Ekologi tidak stabil dan tertekan.Namun dari jenis dominan tampak bahwa jenis yang ada adalah jenis primer.

Tingkat kerusakan menunjukan sebagiaan kecil rusak hingga rusak berat, pada

daerah yang lebih luas. Berdasarkan analisis citra Satelit Landsat dan SIG, diketahui

luas tingkat kerusakan hutan mangrove di Kabupaten Karawang, selengkapnya

diperlihatkan pada Tabel 8. berikut:

Tabel . Tingkat Kerusakan Hutan Mangrove Berdasarkan Survey Lapang

Lokasi Penilaian Tipe Penutupan dan Penggunaan Lahan Jumlah PohonPer Hektar Jumlah Permudaan Per Hektar Lebar Jalur Hijau Mangrove Tingkat Abrasi Nilai
Muara Lama Pengamatan Tambak Tumpangsari 342 8928 386 10-20m 300
Skor 3 1 5 5 1
Muara Baru Pengamatan Tambak Tumpangsari 270 5833 1057 10-20m 300
Skor 3 1 5 5 1
Sukakereta Pengamatan Tambak Tumpangsari 257 6785 354 10-20m 300
Skor 3 1 5 5 1

Sumber:PT.WanaCiptaLestari

Tabel diatas memperlihatkan bahwa tingkat kerusakan hutan mangrove di KabupatenKarawang termasuk kategori rusak. Tampaknya faktor konversi hutan mangrove untukperikanan dengan areal tambak terbuka dapat menjadi faktor utama dalam menentukankerusakan hutan mangrove tersebut.

Rantai Makanan Ekosistem Mangrove

Bagan Alir Rantai Makanan di Ekosistem Mangrove Kab. Karawang JAWA BARAT

_

Pada umumnya fauna yang hidup di hutan bakau adalah serangga, crustaceae, mollusca, ikan, burung reptile dan mamalia. Untuk reptilia mungkin pada kasus ini tidak ada meskipun kemungkinan terdapat reptile di hutan bakau ini.

Sumber utama detritus adalah hasil penguraian guguran daun mangrove yang jatuh ke perairan oleh bakteri dan fungi (Romimohtarto dan Juwana 1999). Rantai makanan detritus dimulai dari proses penghancuran luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya (Nontji, 1993). Setyawan dkk (2002) menyatakan nutrien di dalam ekosistem mangrove dapat juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut. Lalu ditambahkan oleh Romimohtarto dan Juwana (1999) yang menyatakan bahwa bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi.

Hutan bakau di daerah karawang sebagian besar banyak yang telah beralih fungsi dan di konversi umenjadi lahan budidaya ikan maka akan terjadi pemutusan rantai makanan yang mengandalkan nutrient yang ada di pohon mangrove tersebut. Penjelasannya seperti ini, kita sama-sama mengetauhi bahwa rantai makanan yang terjadi di hutan mangrove/bakau tersebut memiliki tipe rantai makanan detritus, rantai makanan ini sumber utamanya dari hasil penguraian guguran daun dan ranting yang dihancurkan oleh bakteri dan fungi sehingga menhasilkan detritus, hancuran detrirus ini menghasilkan nutrient yang sangat penting bagi cacing, mollusca, crustaceae dan hewan lainnya. Dengan rantai tersebut apabila hutan bakau ini di ubah menjadi lahan budidaya maka, cacing, crustacean, mollusca dan hewan lainnya tidak mendapatkan nutrient yang cukup utuk perkembangan kehidupannya. Bakteri dan fungi akan dimakan oleh sebagian protozoa dan avertebrata, kemudian  protozoa dan avertrtebrata akan dimakan oleh karnivora sedang yang selanjutnya di makan oleh karnivora tingkat tinggi, Juwana (1999). Menyimak pernyataan tersebut bahwa fungi dan bakteri yang tadi nya hidup untuk menguraikan dedaunan bakau/mangrove yang sudah jatuh dan seperti itu kehidupannya maka bakteri dan fungi tersebut akan berkurang meskipun tidak semua jenis bakteri dan fungi itu berkurang. Mungkin untuk selanjutnya tidak ada yang berubah karena protozoa dan avertebrata memakan baketri dan fungi yang kita tahu bahwa lahan tersebut tinggal beberappa jenis bakteri dan fungi.

BAGAN ALIR SIKLUS ENERGI DI EKOSISTEM MANGROVE KAB.KARAWANG JABAR

Sumber energinya yaitu matahari, dan seperti yang telah di jelaskan di rantai energi di hutan bakau yang memanfaatkan sumber energy tersebut tidak hanya hutan bakau saja, akan tetapi fitoplankton yang ada akan memanfaatkannya dalam proses Fotosintesis yang akan mengahisilkan Oksigen dan Energi yang kemudian akan dimanfaatkan untuk mahluk hidup lainnya. Bagi crustacean dan mollusca serta hewan akuatik lainnya akan lebih memanfaatkan fitoplankton ini sebagai sumber gizi bagi tubuhnya karena untuk mendapat nutrient yang baik dari penguraian detritus . Untuk ikan-ikan besar dan burung-burung pemakan ikan kecil akan memakan ikan-ikan kecil , setelah hewan-hewan mati maka akan diuraikan oleh pengurai dan dihasilkan detritus yang akan dimanfaatkan fitoplankton sebagai sumber energinya.

Daftar Pustaka

Badan Pusat Statistik Kabupaten Karawang, 2005. Kabupaten Karawang Dalam Angka

Tahun 2005/2006. BPS Karawang, Karawang.

Diunduh dari http://www.bpdasctw.info/FileDownloadan/ExsumInvenIdenMangrove.pdf

Istomo, 1992. Tinjauan Ekologi Hutan Mangrove dan Pemanfaatannya di Indonesia.

Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan, IPB. Bogor.

Diunduh dari http://www.bpdasctw.info/FileDownloadan/ExsumInvenIdenMangrove.pdf

Kusmana, C. 1995. Tehnik Pengambilan Contoh Data Biofisik Sumber Daya Vegetasi Wilayah Pesisir. Laboratorium Ekologi Hutan, IPB. Bogor.

Diunduh dari http://www.bpdasctw.info/FileDownloadan/ExsumInvenIdenMangrove.pdf

Kusmana, C. 1997. Ekologi dan Sumberdaya Ekosistem Mangrove. PKSPL-LP IPB,

Bogor.

http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN_KEHUTANAN/INFO_VI02/VII_VI02.htm

Romimoharto , K dan S.Juwana, 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang BiotaLaut.Puslitbang Osenologi-Lipi, Jakarta ; 527hal .

RIWAYAT HIDUP PE NULIS

SANDRA KANIA dilahirkan di Bandung 02 september 1990

sekarang penulis sedang melanjudkan studi di Universitas Padjadjaran Bandung , jurusan ILMU KELAUTAN .

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

CLIMATE CHANGE

Desember 30, 2009 at 12:38 pm (Uncategorized)

Sandra Kania

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Program Studi Ilmu Kelautan

Laboratorium Fisika Laut

Seberapa Berperankah Kebijakan Pemerintah untuk Menguji Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Dalam Upaya Mengurangi Efek Pemanasan Global ??????

Akhir – akhir ini emisi gas rumah kaca kian meningkat, hal ini dapat dirasakan sendiri oleh kita dengan suhu bumi yang terus mengalami peningkatan Rasanya hawa sejuk yang dulu dapat dengan mudah dapat kita rasakan sekarang sangatlah jarang kita rasakan. Dahulu, banyak orang yang berpendapat bahwa pemanasan global terjadi karena hutan penyerap emisi gas karbon telah berkurang, namun sebenarnya pohon – pohon hanyalah salah satu korban dari pemanasan global . Mungkin pertanyaannya kini ialah, mengapa bisa demikian? Tumbuhan ialah satu-satunya mahluk hidup dimuka bumi ini yang dapat merubah karbondioksida menjadi oksigen, mungkin hal ini yang membuat para peneliti dahulu yakin bahwa penyebab dari pemanasan global ialah karena gundulnya hutan – hutan di bumi ini, sehingga karbondioksida yang terlalu banyak tidak mampu terserap semua oleh tumbuh – tumbuhan dan terakumulasi di atmosfer, gas-gas karbondioksida menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu di bumi terus menerus meningkat.

Negara kita Indonesia ini sebenarnya memiliki peran strategis dalam pengurangan emisi gas rumah kaca mengingat posisi sebagai negara ekuator, memiliki hutan tropis, serta sebagai negara kepulauan. Namun Indonesia sebagai negara yang sedang memacu pertumbuhan industri dan memiliki jumlah penduduk yang besar juga sangat berpotensi untuk menghasilkan gas rumah kaca tersebut. Upaya untuk mengurangi gas rumah kaca  di atmosfer menuntut keseriusan pemerintah dan partisipasi aktif dunia usaha dan masyarakat dalam mengurangi emisi gas rumah kaca tersebut.

Jika dilihat dari berbagai macam aktivitas  yang dilakukan di wilayah perkotaan sangatlah berpotensi untuk menyumbangkan gas rumah kaca ke atmosfer, hal ini karena aktivitas perkotaan tidak dapat dilepaskan dari sektor – sektor transportasi, industry, pemukiman,dan lain sebagainya. Dengan semakin berkembangnya wilayah perkotaan dalam hal ini skala aktivitas ekonominya semakin besar, akan menambah beban pencemaran udara yang dikeluarkan ke atmosfer perkotaan.

Dari berbagai sektor yang potensial, pencemaran udara pada umumnya berasal dari sektor transportasi, sector ini merupakan penyumbang polusi terbanyak dibandingkan yang lainnya. Karena hal ini pengendalian polusi perkotaan sangat tergantung dari pengaturan transportasi kendaraan bermotor. Semakin banyak kendaraan bermotor tentu saja sangat berdampak pada kebutuhan bahan energy khususnya Bahan Bakar Minyak (BBM). Oleh sebab itu, pembangunan sistem transportasi haruslah baik, karena tanpa sistem transportasi yang baik diperkotaan maka kelancaran ekonomi, sosial, politik dan keamanan di perkotaan akan terganggu,juga sistem transportasi sangan mempengaruhi pola tata ruang kota dan pertumbuhan kota-kota disekitarnya.

Emisi kendaraan bermotor mengandung berbagai senyawa kimia. Jenis bahan bakar pencemar yang dikeluarkan oleh mesin dengan bahan bakar bensin maupun bahan bakar solar sebenarnya sama saja, hanya berbeda proporsinya. Emisi gas buang kendaraan bermotor juga cenderung membuat kondisi tanah dan air menjadi asam. Pengalaman di negara maju membuktikan bahwa kondisi seperti ini dapat menyebabkan terlepasnya ikatan tanah atau sedimen dengan beberapa mineral/logam, sehingga logam tersebut dapat mencemari lingkungan.

Kota Bandung dahulu sangatlah sejuk, dengan letak geografis kota bandung yang dikelilingi oleh pegunungan memungkinkannya. Namun berbeda dengan kondisi saat ini, sangatlah berbeda jauh dengan kondisi dahulu. Sekarang udara kota sangatlah berpolusi,tata kota yang carut-marut,kemacetan yang membuat warga-warga kota bandung kini terlihat stress. Mungkin polusi udara bagi mereka yang naik mobil tentu tidak merasakan polusi tersebut; namun bagi para pengguna sepeda motor dan angkutan umum sudah pasti sangat terganggu. Jika hari sudah siang, udara panas menyengat kulit, sinar matahari dan asap kendaraan membuat mata perih dan pernafasan kurang nyaman. Dahulu sempat beredar isu bahwa kendaraan 2-tak yang mengeluarkan banyak asap dilarang memasuki kawasan tertentu yang salah satu akibatnya adalah harga jual motor 2-tak menurun drastic, dan juga angkutan umum seperti bus yang melewati jalan protokol di tengah kota wajib dalam keadaan ”bersih” yang artinya, asap yang dikeluarkan masih dalam batas aman, meski kata  ”aman” di sini sangat relatif menurut standar siapa.

Kemudian seiring berjalannya waktu, sepertinya aturan itu pelan-pelan terkikis dan seolah dilupakan. Lihat saja alat pengukur tingkat polusi udara yang berada di beberapa tempat yang hanya menjadi pajangan saja, misalkan di bunderan Cibiru,Bandung yang kadang nyala kadang juga tidak. Jika alat semacam itu bukan hanya satu, tapi ada beberapa yang dipasang di ruas jalan langganan rush hour, maka akan terpantau separah apa kondisi dan kualitas udara dikota Bandung.

Bahan-Bahan Pencemar dari Gas Buang Kendaraan Bermotor Yang Dapat Membahayakan Kesehatan :

  • Oksida sulfur dan partikulat

Sulfur dioksida (SO2) merupakan gas buang yang larut dalam air yang langsung dapat terabsorbsi di dalam hidung dan sebagian besar saluran ke paru-paru. Partikulat gas buang kendaraan bermotor terutama terdiri hidrokarbon yang tidak terbakar dan senyawa-senyawa logam, nitrat dan sulfat. Sulfur dioksida di atmosfer dapat berubah menjadi kabut asam sulfat dan partikulat sulfat. Sifat iritasi terhadap saluran pernafasan, menyebabkan SO2 dan partikulat dapat membengkaknya membran mukosa dan pembentukan mukosa dapat meningkatnya hambatan aliran udara pada saluran pernafasan

  • Oksida Nitrogen

Diantara berbagai jenis oksida nitrogen yang ada di udara, nitrogen dioksida (NO2) merupakan gas yang paling beracun. Karena larutan NO2 dalam air yang lebih rendah dibandingkan dengan SO2, maka NO2 akan dapat menembus ke dalam saluran pernafasan lebih dalam. Bagian dari saluran yang pertama kali dipengaruhi adalah membran mukosa dan jaringan paru.

  • Ozon dan oksida lainnya

Karena ozon lebih rendah lagi larutannya dibandingkan SO2 maupun NO2, maka hampir semua ozon dapat menembus sampai alveoli. Ozon merupakan senyawa oksidan yang paling kuat dibandingkan NO2 dan bereaksi kuat dengan jaringan tubuh. Evaluasi tentang dampak ozon dan oksidan lainnya terhadap kesehatan yang dilakukan oleh WHO task group menyatakan pemajanan oksidan fotokimia pada kadar 200-500 μg/m³ dalam waktu singkat dapat merusak fungsi paru-paru anak, meningkat frekwensi serangan asma dan iritasi mata, serta menurunkan kinerja para olaragawan.

(A.Tri Tugaswati,2009)

Tindakan yang masih mungkin dilakukan adalah dengan strategi yang melibatkan pihak berwajib, misal SAMSAT dan POLANTAS. Setiap kendaraan diwajibkan menjalani uji emisi untuk persyaratan kir. Namun kenyataannya, banyak kendaraan yang tak layak jalan masih tetap beroperasi di jalanan. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagi publik.

Tapi lagi-lagi harus kita ingat bahwa kita hidup di Indonesia yang kesadaran masyarakatnya tentang arti pentingnya kesehatan dan keamanan berkendara masih sangat rendah. Hal tersebut diperparah dengan adanya praktek pungli tak resmi, suap dan sogok-menyogok di kalangan pemilik kendaraan dan petugas. Apakah program uji emisi terhadap kendaraan itu nantinya akan jalan di tempat, atau berjalan tetapi justru menjadi lahan subur bagi petugas yang hobi melakukan obyekan (pungutan liar)? Padahal, kebijakan yang mengatur masalah emisi kendaraan sebenarnya sudah ada dalam UULAJ Nomor 14 tahun 1992.

Oleh karena sektor transportasi merupakan penyumbang utama polusi di daerah perkotaan maka harus ada suatu kebijakan yang benar – benar fokus pada kendaraan bermotor. Pemerintah pernah mencanangkan Program bahwa di tahun 2009 sebagai tahun Uji Emisi pada Kendaraan Bermotor, di mulai dari Jakarta. Dan batas waktu yang diberikan bagi Para pemilik kendaraan bermotor untuk melakukan Uji Emisi pada bulan Desember 2008. Namun sayangnya, sampai memasuki kuartal II tahun 2009 ini, belum terdengar bahwa program tersebut sudah berjalan atau belum.memang sekarang ini dibeberapa kota besar sudah mulai diterapkan suatu kebijakan yang mengharuskan kendaraan bermotor dilakukan uji emisi gas buang, bahkan ada sumber yang menyebutkan jika kedapatan suatu kendaraan belum lolos tes uji emisi gas buang maka kendaraan tersebut tidak boleh beroperasi bahkan bisa didenda, hal ini berdasarkan suatu peraturan yang ada dari UU No 14 tahun 1992 tentang lalu lintas dan Angkutan Umum dan Peraturan Daerah atau Perda No.2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara, kemudian Keputusan Gubernur OKI Jakarta No. 95 Tahun 2000 tentang Pemeriksaan Emisi dan Perawatan Mobil Penumpang dan Pribadi di Jakarta.

( Dikutip dari Majalah CROSS Volume 17-2009 )

Jika dilihat perkembangan jumlah pemilik sepeda motor yang semakin meningkat, dapat disimpulkan bukan hanya angkutan umum dan mobil pribadi saja yang ikut menyumbang polusi. Karena itu sepeda motor juga harus menjalani uji emisi. Jika hal ini serius dilakukan, maka pihak terkait harus mempersiapkan  semuanya sebaik mungkin melalui PERDA.

Misalnya saat service rutin sekalian dites emisinya, atau diadakan uji emisi gratis. Bagi kendaraan yang sudah menjalani uji dan lulus, akan diberikan sticker dan sertifikat; dan yang tidak memiliki stiker atau sertifikat, akan ditilang. Syarat ini juga diminta saat akan membayar pajak kendaraan.

Masyarakat kita adalah jenis masyarakat yang masih dalam taraf ”belajar pelan-pelan”. Karena itu diperlukan tindakan persuasif (misal penyuluhan), operasi simpatik atau teguran halus. Selain itu ada juga cara yang unik yaitu dengan melibatkan club bikers/ club mobil.

Sebenarnya program Uji emisi kendraan bermotor belum betul-betul dijalankan secara 100% oleh pemerintah,pemerintah masih melakukan uji kebijakan saja tampaknya, tindakan yang masih mungkin dilakukan adalah dengan strategi yang melibatkan pihak berwajib. Setiap kendaraan diwajibkan menjalani uji emisi. Namun kenyataannya, banyak kendaraan yang tak layak jalan masih tetap beroperasi di jalanan. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagi publik.

Tapi lagi-lagi harus kita ingat bahwa kita hidup di Indonesia yang kesadaran masyarakatnya tentang arti pentingnya kesehatan dan keamanan berkendara masih sangat rendah. Hal tersebut diperparah dengan adanya praktek-praktek pungutan-pungutan liar , suap-menyuap dan sogok-menyogok di kalangan pemilik kendaraan dan petugas berwajib. Apakah program uji emisi terhadap kendaraan itu nantinya akan jalan di tempat, atau berjalan tetapi justru menjadi lahan subur bagi petugas yang hobi melakukan obyekan (pungutan liar)? Padahal, kebijakan yang mengatur masalah emisi kendaraan sebenarnya sudah ada dalam UULAJ Nomor 14 tahun 1992.

Dalam hal ini pemerintah berupaya untuk mengurangi efek dari pemanasan global dengan mencanangkan suatu program atau kebijakan untuk menguji emisi gas buang kendaraan-kendaraan bermotor bisa berdampak baik bagi kita semua, akan tetapi berhasil atau tidaknya program ini haruslah didukung oleh aparatur pemerintahan, juga koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, juga didukung oleh tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya program ini untuk menciptakan suatu lingkungan yang bersih dan bebas dari polusi.

Usaha sekecil apapun untuk bumi ini akan sangat berarti …………….

sumber :

http://rudyct.com/PPS702-ipb/08234/m_ilyas.pdf

http://stormz01.blogspot.com/2009/10/uji-emisi-50rb-atau-denda-50jt.html

http://www.komisikepolisianindonesia.com/main.php?page=kliping&id=306

http://rudyct.com/PPS702-ipb/08234/irmansyah.pdf mengurangi emisi gas rumah kaca

http://www.bandung.go.id/images/download/kegiatan_uji_emis.pdf

Permalink 41 Komentar